Bolehkah Mengaqiqahkan Orang lain?

Tentang Hukum Aqiqah, Bolehkah kita mengaqiqahkan orang lain selain anak kita?

Seperti yang kita ketahui aqiqah adalah hewan yang disembelih untuk anak. berasal dari kata al ‘aqqu yang berarti belah dan potong. mengapa demikian? karena hewan tersebut dibelah dan dipotong kerongkongannya atau disembelih. Dalam pengertian lain ‘aqiqah juga berarti rambut yang tumbuh saat di dalam perut ibunya. (Subulus Salam juz IV, hal 407)

Imam Zamahsyari mengatakan : ”Rambut yang dibawa sejak kelahirannya itulah asal ‘aqiqah.” Kemdian Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya “Tuhfatul Maudud” hal.25-26, mengatakan bahwa: Imam Jauhari berkata : Aqiqah adalah “Menyembelih hewan pada hari ketujuh dan mencukur rambutnya.”

Selanjutnya Ibnu Qayyim rahimahulloh mengatakan bahwa:

“Dari penjelasan ini jelaslah aqiqah itu disebut demikian karena mengandung dua unsur diatas dan ini lebih utama.”

Imam Ahmad rahimahulloh dan jumhur ulama berpendapat bahwa apabila ditinjau dari segi syar’i maka yang dimaksud dengan aqiqah adalah makna berkurban atau menyembelih (An-Nasikah).

Hukum Aqiqah

Ada beberapa perbedaan pendapat tentang hukum aqiqah ada yang berpendapat wajib dan ada juaga yang berpendapat sunnahsunnah. Dan menurut mayoritas ulama hukum aqiqah adalah sunnah. (Subulus Salam juz IV, hal 409).

Dalam kitab Nailul Authar (6/213) Al-Allamah Imam Asy-Syaukhani rahimahulloh berkata  : “Jumhur ulama berdalil sunnahnya aqiqah berdasarkan hadist Nabi dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dan dari kakeknya, Rasulullah bersabda : “Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih kambing karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing.” [Sanadnya Hasan, Hadits Riwayat Abu Dawud (2843), Nasa’I (7/162-163), Ahmad (2286, 3176) dan Abdur Razaq (4/330), dan shahihkan oleh al-Hakim (4/238)]

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Malik dan Abu Dawud, berdasarkan sabda Rasulullah saw: “Barangsiapa yang ingin menyembelih (hewan ‘aqiqah) untuk anaknya maka lakukanlah, dan barang siapa yang tidak ingin maka tinggalkanlah.

Dalil yang mewajibkan aqiqah berdasarkan hadits Nabi dari Samurah r.a. Rasulullah bersabda: “Setiap anak tergadai dengan ‘aqiqahnya, disembelih aqiqah itu untuk dia (anak) pada hari ke tujuh dari kelahirannya, dia dicukur dan diberi nama.” (HR. Ahmad dan al-Arba’ah yaitu, Abu Dawud, At Tirmidzi, an Nasai, dan Ibnu Majah).

Dan hadits dari Aisyah r.a: “Sesungguhnya Rasulullah saw. Memerintahkan mereka aqiqah untuk anak laki-laki itu dua ekor kambing dan dalam riwayat yang sama, dan untuk anak perempuan seekor kambing.” (HR Tirmidzi). [lihat subulus salam, hal 411)

Dari kedua pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa hukum Aqiqah adalah sunnah mu’akadah (sunah yang sangat dianjurkan). Hal ini berdasarkan pemahaman bahwa kalimat perintah pada hadits yang diriwayatkan Tirmidzi dari Aisyah hanya menunjukkan tuntutan saja sedang kewajiban harus ditunjukkan oleh adanya indikasi lain yang lebih tegas.  Sebagaimana kaidah syara’ :  Al-Ashlu fi al-amri li ath-thalab (“Perintah itu pada asalnya adalah sekedar menunjukkan adanya tuntutan.” ). (An-Nabhani, Taqiyuddin, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah. Juz III. Al-Quds : Mansyurat Hizb Al-Tahrir 1953).

Dua hadits di atas merupakan indikasi/petunjuk bahwa ‘aqiqah adalah sunnah. Hadits Rasulullah yang diriwayatkan at Tirmidzi dari Aisyah “Sesungguhnya Rasulullah saw. Memerintahkan mereka aqiqah” adalah tuntutan untuk melakukan aqiqah. Sedang hadits Imam Malik dan Abu Dawud, “Barangsiapa yang ingin menyembelih (hewan ‘aqiqah) untuk anaknya maka lakukanlah, dan barang siapa yang tidak ingin maka tinggalkanlah.”, merupakan indikasi bahwa tuntutan melakukan aqiqah yang ada pada hadits at Tirmidzi tidak bersifat jazim (keharusan), tetapi bersifat ghairu jazim (bukan keharusan).

Mengamalkan semua dalil adalah lebih utama dari pada meninggalkan salah satunya, sesuai kaidah syara: Al-ashlu fi ad-dalil al-i’mal laa al-ihmal. “Pada dasarnya dalil itu adalah untuk diamalkan (semuanya), bukan untuk ditanggalkan (salah satunya).”  (Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, Juz I, hal. 239). Juga kaidah syara’: Al-‘amal bi ad-dalilaini –walaw min wajhin– awlaa min ihmali ahadihima (“Mengamalkan dua dalil –walau pun hanya dari satu segi pengertian— lebih utama daripada meninggalkan salah satunya.”) (Abdullah, 1995 : 390). Dari sini kami mengambil pemahaman bahwa hukum ‘aqiqah adalah sunnah mu’akadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Wallahu’alam.

Waktu Pelaksanaan Aqiqah

Dari Anas r.a. beliau berkata: Rasulullah saw. Bersabda: “Anak itu di aqiqahkan pada hari ketujuh dari kelahirannya….” (HR. Ibnu Hibban).

Rasulullah pernah mengaqiqahkan Hasan dan Husain. Dan pelaksanaannya adalah pada hari ketujuh. Dari Ibnu Abbas r.a : “Sesungguhnya Nabi saw mengaqiqahkan Hasan dan Husain masing-masing satu ekor kibas.” (HR. Abu Dawud). Sedang dalam riwayat al Baihaqi, al Hakim dan ibnu Hibban yang berasal dari aisyah ada tambahan matan: “Aqiqahnya itu pada hari ketujuh dan beliau memberi nama keduanya, dan beliau menyuruh supaya dibersihkan kotoran dari kepala keduanya.”

Hadist tersebut menjadi dasar bahwa waktu aqiqah yang paling utama adalah hari ketujuh dari hari kelahirannya. Namun terdapat perbedaan pendapat tentang bolehnya melaksanakan aqiqah sebelum hari ketujuh atau sesudahnya. Dalam kitab “Fathul Bari” (9/594) karangan Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahulloh berkata  : “Sabda Rasulullah pada perkataan ‘pada hari ketujuh kelahirannya’, ini sebagai dalil bagi orang yang berpendapat bahwa waktu aqiqah itu adanya pada hari ketujuh dan orang yang melaksanakannya sebelum hari ketujuh berarti tidak melaksanakan aqiqah tepat pada waktunya. Bahwasannya syariat aqiqah akan gugur setelah lewat hari ketujuh. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik. Beliau berkata: “Kalau bayi itu meninggal sebelum hari ketujuh maka gugurlah sunnah aqiqah bagi kedua orang tuanya.”

Sebagian membolehkan sebelum hari ketujuh. Pendapat ini dinukil dari kitab “Tuhfatul Maudud” hal.35 karangan Al imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah . Sedangkan pendapat bolehnya dilaksanakan setelah hari ke tujuh berdasarkan pendapat Ibnu Hazm dalam kitabnya “al-Muhalla” 7/527.

Tidak Ada Tuntunan Bagi Orang Dewasa Untuk Beraqiqah

Sebagian ulama mengatakan : “Seseorang yang tidak diaqiqahi pada masa kecilnya maka boleh melakukannya sendiri ketika sudah dewasa”. Mereka kemungkinan berpegang dengan hadist Anas yang berbunyi : “Rasulullah mengaqiqahi dirinya sendiri setelah beliau diangkat sebagai nabi.” Al Baihaqi berpendapat bahwa hadits ini munkar, sedangkan menurut Imam Nawawiy: hadits ini bathil.

Dan Kami belum menemukan dalil tentang aqiqah bagi orang dewasa. Sehingga pendapat kami bahwa ‘aqiqah adalah untuk anak yang belum baligh dan yang utama adalah pada hari ketujuh. Wallahu’alam.

Mengaqiqahkan Orang Lain.

Tidak ada larangan dalam hal itu dan diperbolehkan melakukan aqiqah oleh selain wali anak hadits yang diriwayatkan oleh Samurah Radhiyallahu ‘anhu.

Dalam Nailul Authar (5/133) Al-Allamah Asy-Syaukani berkata : “Ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “disembelih untuknya” merupak dalil bahwa boleh bagi orang lain untuk mengurusi penyembelihan nasikah tersebut, sebagaimana bolehnya kerabat mengurusi kerabatnya dan seseorang mengurusi dirinya”.

Dalil kebolehannya adalah hadits dari Ibnu Abbas tentang Rasulullah saw. Yang mengaqiqahkan cucu beliau yaitu Hasan dan Husain.

Jika seseorang ingin mengaqiqahi orang lain misalkan anak yatim, maka hukumnya adalah boleh, dan sunnah bagi anak yang masih belum baligh dan lebih utama ketika mereka berumur 7 hari. Wallahu’alam.